KERAMAT DATUK SANGGUL TIDAK TERSENTUH AIR

Suatu ketika sebelum sholat jumat, Di saat para jamaah sedang berwudhu di pinggir sungai,tiba-tiba Datu Sanggul datang dan langsung terjun ke sungai yang air sedang meluap tersebut. Dia bercebur lengkap dengan pakaiannya. Orang-orang berteriak dan menjadi gempar.

Dan tiba-tiba lagi, di tengah kegemparan masyarakat itu, Datu Sanggul muncul dari tengah sungai dan berjalan di atas air dengan tenangnya, lalu langsung memasuki masjid. Lebih mengherankan, pakaian dia tidak basah sama sekali, kecuali anggota wudhunya.

Ketika Datu Sanggul berjalan diatas air sambil melantunkan syair sufi :

“Allah jadikan saraba ampat.
Syariat tharikat hakikat ma’rifat.
Menjadi satu di dalam khalwat.
Rasa nyamannya tiada tersurat”.

“Riau-riau padang si bundan.
Di sana padang si tamu-tamu.
Rindu dendam tengadah bulan.
Di hadapan Allah kita bertemu”.
Allahu Akbar”.

Datu Sanggul, demikian masyarakat menyebutnya, adalah seorang ulama Waliyullah yang berasal dari Desa Tatakan, Kecamatan Tapin Selatan, Kabupaten Rantau Tapin. Ia hidup sekitar abad ke-18 M, satu zaman dengan Maulana Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari.

Datu Sanggul bernama asli Syekh Muhammad Abdussamad. Kemudian diberi nama oleh Nabi Khidir dengan nama Syeikh Ahmad Sirajul Huda.

Adapun nama Datuk Sanggul karena beliau sering Menyanggul atau Berkhalwat Dzikir.

Pada suatu hari di Kota Mekkah, ketika Syeikh Muhammad Arsyad Al-banjari lagi menuntut ilmu di Masjidil Haram, melihat seseorang sedang sembahyang di dekatnya. Dia tertarik untuk mengetahui, karena orang itu mengenakan baju palimbangan hitam dan celana hitam serta memakai laung. Syeikh Muhammad Arsyad Al-banjari yakin bahwa ia bukan orang-orang Mekkah, karena orang-orang Mekkah tidak ada yang berpakaian demikian. Pakaian seperti itu hanya dipakai oleh orang Banjar atau orang tanah Jawa. Dan peristiwa itu dilihat oleh Syeikh Muhammad Arsyad Albanjari selama beberapa kali setiap hari Jum’at.

Syeikh Muhammad Arsyad Al-banjari bertanya: “Saudara ini orang mana, asal negeri mana dan sudah berapa lama tinggal di Mekkah.”
Datu Sanggul menjawab pertanyaan itu dengan senyum. “Saya setiap Jum’at datang ke sini untuk bersembahyang, dan aku berasal dari Kalimantan selatan, Allah memberiku kekuatan sehingga dalam sedetik akupun sampai di mekah ini”

Untuk menguji kebenarannya itu, Syeikh Muhammad Arsyad Albanjari pun kemudian berkata kepada Datu Sanggul. “Kalau betul engkau pulang pergi dari Kalimantan ke sini dalam sekejap mata, coba tolong bawakan aku durian dari kalimantan selatan kesini ..!”

Datu Sanggul lalu berdiri di depan Kabah Tangannya dilambaikannya ke Hajar Aswad, Ketika ia menarik kembali tangannya, ada sebiji durian : “Nah ini durian barusan kupetik masih ada getah ditangkainyanya,” kata Datu Sanggul.

Buah itu diterima Syeikh Muhammad Arsyad Albanjari dg tersenyum, Sejak pertemuan awal itu, Datu Sanggul dan Syeikh Muhammad Arsyad Albanjari semakin sering bertemu di setiap salat Jum’at. kemudian untuk menyempurnakan ilmunya, maka keduanya berguru di mekah kepada Wali Mursyid Thariqat Qadiriah Wa Naqsyabandiah.

Dari persahabatan keduanya ini pula kemudian ada satu kitab yg dikenal Kitab Barincong. Yakni, kitab yang dibagi dua secara diagonal. Satu bagian dipegang oleh Syeikh Muhammad Arsyad Albanjari dan sebagian lainnya dibawa oleh Datu Sanggul.

“Jangan susah mencari BILAH.
Bilah ada di rapun BULUH
Jangan susah mencari ALLAH.
Allah ada di batang TUBUH”.
(Datuk Sanggul)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama