KISAH RAJA YANG INGIN PINDAHKAN MAQOM IBRAHIM

KH. Ali Akbar Marbun, tokoh muslim batak yang didaulat untuk taushiyah memberikan ibrah bahwa para ulama harus saling menghormati, saling memahami peran masing-masing, dalam rangka memberikan konstribusi terhadap bangsa.

Dulu waktu KH. Ali Akbar berguru kepada Sayyid Alawi Al Maliki (Ayahanda Abuya Sayyid Muhammad bin Alawi Al Maliki) ada ulama Makkah yang tidak mau datang diundang oleh Raja.

Beliau adalah Syaikh Amin Kutbi. Sementara Sayyid Alawi sendiri termasuk yang berkenan datang jika diundang Raja.

Bahkan sesekali Sayyid Alawi dawuh, "Saya ini, jangankan diundang, tidak diundang pun saya akan tetap mendatangi Raja. Karena jika tidak, maka Raja akan dibisiki oleh orang-orang Wahabi. Maka saya harus mendatangi Raja."

Pada suatu saat, para tokoh agama wahabi memutuskan bahwa Maqom Ibrohim harus dipindah. Raja Faisal pun memanggil para tokoh dan ulama, termasuk Sayyid Alawi Al Maliki.

Dalam forum resmi kerajaan tersebut, Raja menyampaikan kepada para ulama yang hadir, bahwa semua tokoh wahabi sudah menyepakati bahwa Maqom Ibrahim yang posisinya di dekat Kabbah harus dipindah untuk kemaslahatan umat.

"Lalu bagaimana pendapat Sayyid Alawi?" tanya Raja Faisal dalam forum itu.

Mendapat pertanyaan seperti itu,  Sayyid Alawi menanggapi secara diplomatis.

"Mengenai hukum Memindahkan Maqom Ibrahim ada ulama Hijaz yang lebih kompeten untuk menjawab. Karena beliau ulama yang alim. Yaitu Syaikh Amin Kutbi. Tapi sayang, beliau tidak berkenan untuk mendatangi undangan kerajaan. Maka untuk mengetahui jawaban itu, pihak kerajaan harus mendatangi beliau!"

Tak berapa lama, Raja Faisal pun berkenan bertandang kediaman Syaikh Amin Kutbi di Mekkah. Sang Raja dan pengawalnya harus rela menyusuri gang sempit untuk bisa menemui Syaikh Amin Kutbiy yang rumahnya sangat sederhana di perkampungan Kota Makkah tersebut.

Setibanya di rumah Syaikh Amin Kutbi, Raja Faisal dan pengawalnya harus rela berlama-lama menunggu Syaikh Amin Kutbiy di depan pintu oleh sebab shohibul bait tak kunjung keluar.

Dan setelah Syaikh Amin Kutbiy keluar, Raja langsung bertanya, "Bagaimana pendapat Syaikh Amin jika Maqom Ibrahin dipindah untuk kemaslahatan umat?"

Syaikh Amin Kutbi yang memang terkenal tegas itupun menjawab pertanyaan tamunya di depan pintu.

"Yang meletakkan Maqom Ibrahim itu adalah Rasulullah berdasarkan wahyu. Jika ada tangan yang lebih mulia dari tangannya Rasulullah SAW, maka bolehlah dia memindahkan Maqom Ibrahim tersebut!"

Jawaban singkat dari Syaikh Amin Kutbi itu membuat Raja Faisal dan pengikutnya tertegun. Lebih terkesima lagi, ternyata Syaikh Amin Kutbi tidak hanya memberi jawaban yang menghentak, tetapi juga tidak mempersilahkan Raja untuk masuk kerumahnya. Sehingga Raja dan pengikutnya dilayani hanya di depan pintu. Setelah itu Syaikh Amin Kutbi langsung menutup pintu dan masuk kedalam rumahnya tanpa mempersilahkan tamunya masuk.

Sejak saat itu, rencana pemindahan Maqom Ibrahim akhirnya diurungkan sampai saat ini.

Menurut KH Ali Akbar, ini berkat sinergi antara ulama yang saling mengerti peran dan posisi masing-masing. Sayyid Alawi menghormati Syaikh Amin Kutbiy yang tidak mau mendekat kerajaan. Begitu pula dengan Syaikh Amin Kutbiy juga menghormati Sayyid Alawi yang sering mendatangi kerajaan.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama