BAHAYANYA BELAJAR TANPA GURU

Dikisahkan, Syekh Ali berdiskusi dengan seorang yang belajar secara otodidak tanpa guru. 

Satu hari, seorang laki laki lulusan sebuah Universitas ternama mendatanginya menanyakan satu permasalahan. Ia bertanya sembari mengeraskan suara agar orang di sekelilingnya mendengar! 

"Syekh, orang orang berlebihan dalam mensifati Rasul. Beberapa bahkan mengatakan air seni Rasul suci, tidak najis. Pernyataan ini tidak bisa diterima oleh akal: bahkan sampai pada pembenaran riwayat Rasul mengencingi anak kecil."

Syekh Ali mengatakan :

"Dimana kamu mendapati pernyataan Rasul mengencingi anak kecil?"

"Dalam Shahih Bukhari." Jawabnya 
 
"Datangkan kitab itu kemari." Pinta Syekh Ali

Ia diminta membuka riwayat yang berbicara Rasul mengencingi anak kecil. Setelah diteliti, ternyata hadis tersebut berbicara bahwa ada anak kecil yang dibawa pada Nabi untuk ditahnik. Kemudian anak kecil itu diletakkan di pangkuan Nabi. Tiba tiba ia kencing di pangkuan Nabi (بال عليه). Laki laki tersebut memahami redaksi hadis keliru karena terbalik mengembalikan marji' dlamir: Nabi mengencingi anak kecil. 

Syekh Ali mengatakan, terkadang kesalahan makna itu bisa sangat fatal. Ia menceritakan kasus, pernah ada seseorang yang salah memahami bentuk jama' (plural) ke bentuk kata dasar pekerjaan (isim mashdar). 

Kasusnya adalah saat orang tersebut membaca  حلق الذكر bukan dengan bentuk plural (hilaq), melainkan dibaca dengan bentuk kata dasar pekerjaan (halq). 'Hilaq' sendiri mempunyai makna beberapa halaqah/majlis. Sementara 'halq' mempunyai makna pemotongan. Sehingga redaksi "hilaqudz dzikri" (halaqah halaqah dzikir) dibaca dengan redaksi "halqudz dzakar (pemotongan penis)

حلق الذكر فإن لله سيارات من الملائكة يطلبون حلق الذكر فاذا اتوا عليهم صفوا بهم 

”Majelis dzikir. Allah memiliki sekelompok malaikat yang mencari majlis-majlis dzikir. Jika mereka mendatanginya, malaikat-malaikat tersebut akan mengelilinginya.”

Jika memakai cara baca yang keliru di atas, tentu saja maksudnya menjadi sangat berbeda: "Malaikat mencari pemotongan penis."

Itulah bahaya belajar tanpa guru. Meskipun penguasaan nahwu sharaf baik, tapi maksud penulis sebuah kitab tidak bisa didapat dari metode otodidak. Sebuah kitab bisa benar dan tepat jika dibaca dari sudut pandang bahasa, tapi pada saat yang sama melenceng dari maksud penulis. Nah, kesesuaian dengan maksud penulis tidak bisa diperoleh kecuali melalui silsilah mata rantai sanad.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama