ABUYA DIMYATI BANTEN GURUNYA PARA ULAMA

Beliau lahir dari pasangan KH. Amin dan Hj. Ruqayah, beliau memiliki kecerdasan dan kesalihan sejak beliau masih kecil. Beliau belajar dari satu pesantren ke pesantren lain, diantaranya pesantren Cadasari Kadupaseng Pendaglang, kemudian pesantren di Plamunan hingga Pleret Cirebon.

Abuya berguru pada banyak ulama sepuh di tanah Jawa, di antaranya Abuya Abdul Chalim, Abuya Muqri Abdul Chamid, Mama Ahmad Bakri (Mama Sempur), Mbah Dahar Watu Congol, Mbah Nawawi Jejejran Jogja, Mbah Khozin Bendo Pare, Mbah Baidawi Lasem, dan masih banyak guru lainnya.

Dari semua guru-guru beliau bermuara pada Syekh Nawawi Al Bantani, baginya para kiai sepuh memiliki kriteria khalifah dan mursyid yang sempurna.

Abuya Dimyati dikenal sebagai sosok yang kharismatik, tekun, bersahaja, dan sederhana.

Kesohoran Abuya Dimyati dalam bidang ilmu dan tasawuf menjadikan Banten tak pernah sepi dengan pencari ilmu maupun tamu, semasa hidupnya beliau menjadi gurunya para guru dan kiyainya para kiyai. Sejak mondok di Watucongol, abuya sudah diminta mengajar teman-teman santrinya oleh mbah Dalhar, begitupun saat ia berpindah di pesantren-pesantren yang lain.

Abuya Dimyati seringkali berpesan kepada muridnya, “jangan meninggalkan ngaji karena kesibukan urusan maupun umurmu.” Bagi beliau, menuntut ilmu adalah hal yang sangat penting, beliau menyerukan “thariqah aing mah ngaji” (jalan saya adalah mengaji). Sebab tinggi rendahnya derajat ulama dilihat dari bagaimana ia mehargai ilmu.

Bagi beliau hidup adalah ibadah, saat di Kaliwinggu beliau mengajar dari pagi sampai dengan menjelang Dhuhur kembali mengajar setelah Dhuhur sampai Ashar dan berlanjut dari Ashar hingga Maghrib, saat waktu Maghrib sampai Isya ia habiskan untuk wirid dan kembali mengajar hingga larut malam dan dilanjutkan dengan ibadah malam qiyamul lail sampai bertemu waktu Subuh.

Ketika Abuya Dimyati menginginkan berguru pada KH. Baidlawi Lasem, ia diminta untuk pulang namun ia menolak dengan menjawab, “saya tidak memiliki ilmu.” Pada suatu ketika beliau bertemu dengan KH. Baidlawi Lasem memohon warisan thariqah numun KH. Baidlawi menjawab, “mbah Dim, zikir itu sudah termaktub dalam kitab, begitupula dengan shalawat silakan memuat sendiri saja, "saya tidak bisa apa-apa.”

Tarekat adalah sebuah wadfizah yang terdiri dari zikir dan salawat, untuk kesekian kalinya lalu KH. Baidlawi menyuruh abuya untuk shalat istikharah dan kembali menemui KH. Baidlawi, kemudian diijazahi thariqah Asy-Syadiliyah.

Abuya Dimyati wafat pada malam Jumat Pahing 3 Oktober 2003 M / 7 Sya’ban 1424, sekitar pukul 3.00 WIB meninggal pada usia 78 tahun.

والله اعلم بالصواب

Sumber : Toha Mahsun

3 Komentar

  1. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

      Hapus
  2. Makasih banyak… mafaat banget

    BalasHapus
Lebih baru Lebih lama